Pada kehidupan yang kian hari kian maju dan modern, masyarakat kota yang jenuh akan kebisingan, kemacetan, kesemrawutan, lingkungan yang banyak polusi dan lain-lain tentunya menginginkan suatu kondisi yang bisa melepas semua beban tersebut. Alam pedesaan yang masih alami tentunya menjadi salah satu pilihan keluarga untuk melepas sejenak rutinitas kota agar kembali seimbang antara kebutuhan jasmani dan rohani. Satu trend perkembangan wisata saat ini lebih mengarah pada alam. Di mana konsep wisata memberi penekanan pada pemenuhan untuk mendapatkan pengalaman langsung (first-hand experienced) tentang budaya dan lingkungan.

Ekowisata adalah bentuk tren wisata tersebut, ia merupakan bentuk kegiatan wisata yang memberikan kesempatan kepada wisatawan untuk melakukan kontak mata dengan masyarakat lokal dan hidup dalam budaya mereka sebagai sebuah kegiatan yang berada dan menyenangkan. Ada beberapa label yang membuatnya berbeda dengan bentuk wisata lain ; keuntungan ekonomi untuk masyarakat lokal, keuntungan konservasi dan meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, meningkatkan kepedulian terhadap budaya, kesenangan dan pendidikan untuk masyarakat lokal dan pengunjung (tourism queensland, 1999). Sebagai satu dampak positif bagi masyarakat lokal adalah adanya peningkatan pendapatan masyarakat, mengapa? Karena dalam ekowisata penyelenggara utama adalah masyarakat lokal.

Penerapan ekowisata tentu saja tidak semudah membalikkan telapak tangan. Selama fakta ini menunjukkan bahwa pihak swastalah yang lebih banyak berperan dalam perputaran modal di bidang wisata. Mengalihkannya kepada masyarakat lokal tentu membutuhkan waktu dan juga upaya yang tidak sedikit, dalam istilah yang sering terdengar memberdayakan. Mencapai masyarakat berdaya membutuhkan dukungan dan keterlibatan banyak bidang/sektor. Apalagi ekowisata membangun satu model wisata yang mengintegrasikan alam, masyarakat lokal dan budaya dan konsep masyarakat berdaya menjadi satu kategori berhasilnya satu pola pengembangan ekowisata.

Desa Jatiarjo adalah salah satu desa yang secara administratif masuk dalam Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan. Desa yang terletak di lereng Gunung Arjuno ini memiliki iklim yang sejuk dan tanah yang subur. Oleh karenanya, di Jatiarjo tersimpan potensi sumber daya alam yang melimpah, khususnya di bidang pertanian dan perkebunan. Salah satu potensi terbesar di desa ini ialah keberadaan lahan perkebunan kopi yang besar.

Keberadaan kebun kopi yang sudah lama ada membuat masyarakat Jatiarjo ngapal dengan kopi dan penanganannya. Dengan membawa brand “Wisata Kampung Kopi”, Jatiarjo layak dicanangkan sebagai ekowisata untuk ditawarkan kepada para wisatawan. Tidak hanya itu, Jatiarjo juga memiliki potensi strategis karena berdampingan dengan tempat-tempat wisata besar macam Taman Safari Indonesia II, Yayasan Kaliandra Sejati dan sebagainya.

[Imam]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *